Oleh: greenroot | Februari 25, 2008

Manusia yang Paling Pemurah

Pada Permulaan Islam, tepatnya pada zaman sahabat, sambil diniatkan i’tikaf , orang-orang berkumpul di sekitar kabah. Mereka saling berbicara tentang kebaikan.Suatu hari, ada tiga orang yang berdebat mengenai orang yang paling dermawan di antara kaum muslim.Orang pertama berkata, ”Manusia yang paling pemurah adalah Abdullah bin Ja’far.”Orang kedua berkata, ”Tidak bisa, manusia yang paling pemurah adalah Arabah Al-Ausi.”Orang ketiga berkata, ”Kalian berdua keliru, manusia paling pemurah adalah Qaish bin Sa’ad.”Tiga oang itu berselisih sengit. Suara mereka meninggi.

Orang pertama kembali mengatakan dengan suara yang tegas, ”Abdullah bin Ja’far paling pemurah!”Orang yang kedua membantah,”tidak bisa, Arabah Al-Ausi lebih pemurah!”Orang ketiga tidak terima, ”Tak bisa disangkal, banyak orang yang mengatakan Qaish bin Sa’ad manusia yang paling pemurah!”Perdebatan mereka bertiga menarik perhatian banyak orang. Akhirnya ratusan orang mengelilingi mereka bertiga. Orang-orang itu ingin mengethuiapa yang sedang mereka perdebatkan.Setelah tahu duduk persoalannya, mereka memberi saran, ”Sebaiknya, kalian temui satu per satu ketiga orang yang kalian anggap paling pemurah itu. Ujilah mereka. Setelah itu, kembalilah kesini. Beritahukan apa yang kalian saksikan, biar kami yang memutuskan siapa yang paling pemurah.”Saran itu disetujui oleh ketiga lelaki itu.

Lelaki pertama pergi ke rumah Abdullah bin Ja’far. Dia bertemu Abdullah di depan rumahnya. Saat itu, Abdullah sedang bersiap-siap menunggang untanya dan pergi ke kebunnya.Lelaki pertama berkata kepada Abdullah, ”Wahai anak paman Rasulullah, aku seorang Ibnu Sabil, aku tidak mempunyai keluarga.”Seketika itu, Abdullah bin Ja’far turun dari untanya dan berkata, ”Naikilah unta ini. Ia menjadi milikmu. Ambillah kantong dan isinya yang ada di punggung unta itu. Ambil pula pedang ini. Ini adalah pedang Ali bin Abi Thalib.Lalu, lelaki pertama kembali ke Mekkah dan membuka isi kantong yang berada di punggung unta itu. Ternyata, kantong itu berisi pakaian dan uang dinar emas, yang sangat banyak, juga pedang milik Ali bin Abi Thalib.”Lelaki ketiga pergi ke rumah Qaish bin Sa’ad. Saat itu, Qais sedang tidur. Dia ditemui oleh pembantunya.Dengan ramahnya, sang pembantu bertanya, ”Qaish sedang tidur. Apa yang kau inginkan?”Dia menjawab, ”Aku seorang Ibnu Sabil, tidak punya keluarga.”Pembantu Qaish berkata, ”Ambillah kantong ini. Di dalamnya ada tujuh ratus dinar. Itu adalah semua harta yang aku miliki. Biarlah, nanti aku beritahukan ini kepada tuan Qaish.”Lalu pembantunya mengajaknya ke kandang unta dan meminta lelaki itu mengambi seekor unta yang disukainya.

Setelah mengambil seekor unta, lelaki itu mengucapkan terima kasih kepada si pembantu, lalu pergi menuju Masjidil Haram.Ketika Qaish bangun, pembantunya itu mengabarkan perihal lelaki tadi kepadanya. Qaish senang dengan apa yang telah dilakukan oleh pembantu itu. Dis berterima kasih dan mengganti uang tujuh ratus dinar yang diberikan kepada lelaki yang baru datang tadi.Lelaki ketiga sampai ke Kabah dengan membawa unta dan uang sejumlah tujuh ratus dinar.Lelaki kedua pergi ke rumah Arabah. Dia menjumpai Arabah di depan rumah, saat Arabah hendak pergi ke Masjid. Arabah adalah seorang yang buta. Dia bergantung kepada seorang budak yang membantunya mengantar ke Masjid. Lelaki kedu itu berkata, ”Hai Arabah, Aku Ibnu Sabil, dan aku tidak punya keluarga.”Seketika, Arabah menjawab, ”Ambillah, budakku ini, dia satu-satunya harta yang aku miliki.”Setelah memberikan budaknya, Arabah berjalan dengan meraba-raba pada dinding menuju Masjid. Sementara lelaki kedua membawa budak yang di dapatnya dari Arabah ke Kabah.Oarng-orang berkumpul di sekeliling tiga orang itu.

Mereka menceritakan apa yang mereka alami satu per satu.Bagaimanakah akhirnya orang-orang itu memutuskan? Siapakah yang paling pemurah?Orang-orang mengatakan, ”tiga orang itu semuanya sangat pemurah, tetapi Arabah adalah yang paling pemurah dan paling dermawan. Dia memberikan semua harta yang dimilikinya. Padahal, dia sangat memerlukannya, yaitu budak yang menuntun jalannya.

[Ketika Cinta Berbuah Surga-Habbiburrahman El Shirazy]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: